Selamatan Kenaikan Sabuk: piranti tidak lengkap!
Januari 27, 2009
‘Siswa yang hanya ingin belajar silat saja tanpa ada itikad untuk turut serta melestarikan budaya luhur bangsa, maka belajarnya akan gagal, karena jelas bahwa sanggar ini pada intinya untuk melestarikan budaya luhur. Ini bukan aturan saya melainkan hukum alam. Nyatanya, mari kita sejenak mawas diri, bahwa setiap hari nyaris 100% pikiran kita dituntut untuk memikirkan tujuan hidup kita atau ambisi kita,hampir tak pernah kita memikirkan apa tujuan Allah menciptakan Kehidupan ini. Dan dari sinilah awal mula kegagalan hidup. Walau sukses lahiriah namun kehidupan batiniah senantiasa belum mampu menentramkan,’ demikian kutipan sambutan Kertaningtyas, Pendiri Sanggar Silaturahmi Pangastuti dalam acara selamatan kenaikan tingkat bagi siswa yang belajar silat, malam Selasa Kliwon, 26 januari 2009. Siswa yang hendak naik tingkat adalah Herifan Candra, Agus Zairi dan Sad Gatot Sutrisno. Setelah mempersiapkan diri selama beberapa bulan kini mereka siap menyandang sabuk hitam, sabuk pertama untuk tingkat dasar.
Tampak dalam acara itu beberapa piranti selamatan belum cukup, seperti air bunga dan jenang abang putih. Sebagai siswa ‘baru’, ini merupakan pelajaran langsung tentang betapa pentingnya tanggap terhadap situasi dan kondisi, bukan hanya menggantungkan pada pihak lain. ‘Salah satu budaya luhur yg dilestarikan adalah tradisi slametan, dan hal ini sangat mendasar, maka lain kali jika ada rencana selamatan, terutama yg berkaitan langsung saja datang ke Sanggar utk turut serta menyiapkan acara,’ lanjut Kertaningtyas. Tidak lengkapnya piranti acara bisa saja dipahami karena kurangnya pengetahuan, karena siswa2 tsb masuk dalam kategori baru dalam latihan silat. ‘Baru tapi lama’, karena secara status keanggotaan salah satunya telah bergabung di Sanggar sejak tahun 2001.
Nah lho..¿ Semoga saja dapat dipetik sebagai pelajaran.